Senin, 25 Juli 2011

Mengapa Rumah Sakit Perlu Akreditasi?

Pada dasarnya masyarakat berhak mendapatkan pelayanan yang bermutu dan perlindungan yang layak. Oleh karena itu, rumah sakit didalam memberikan pelayanan wajib memenuhi standar pelayanan RS. Sedangkan tenaga kesehatan di RS dalam melakukan tugasnya berkewajiban mematuhi standar profesi dan memperhatikan hak pasien.

Tuntutan masyarakat akan hak mendapatkan pelayanan yang bermutu tersebut berdampak berbagai prakarsa dalam sistem pelayanan kesehatan tertuju kepada mutu pelayanan dan pengembangan sistem evaluasi mutu pelayanan. Walaupun pada dasarnya, tidak ada pendekatan yang optimal dan yang tunggal untuk menilai dan mengevaluasi mutu pelayanan kesehatan, namun banyak negara telah menggunakan model akreditasi sebagai alat efektif untuk melakukan peningkatan mutu pelayanan.

Tiga negara terkemuka didunia di bidang akreditasi rumah sakit yaitu Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Ketiga negara tersebut telah lama mulai melakukan akreditasi rumah sakit. Sistem akreditasi pada ketiga negara tersebut tidak persis sama karena sistem akreditasi pada umumnya spesifik untuk suatu negara, disesuaikan dengan struktur dan nilai sosial, budaya, ekonomi, politik dan teknologi.

Yang perlu diperhatikan adalah, apapun sistem akreditasi yang digunakan, tujuan utama akreditasi adalah agar upaya peningkatan mutu dibudayakan dan diintegrasikan kedalam sistem pelayanan kesehatan.

Minggu, 17 Juli 2011

Pembenahan Pelayanan Rumah Sakit

MenKes
JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas keahlian dan pelayanan dokter dan rumah sakit di Indonesia untuk menekan jumlah warga Indonesia berobat ke luar negeri.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu mengatakan, pihaknya sedang mengupayakan bertambahnya jumlah rumah sakit (RS) berakreditasi internasional. Jenis RS ini dapat digunakan oleh warga masyarakat yang menginginkan pelayanan kesehatan premium. "Kita mulai dari RS swasta dulu," kata Menkes di Jakarta beberapa waktu lalu.
Untuk menekan biaya akreditasi itu, Kementerian Kesehatan sedang membuat sebuah lembaga akreditasi bertaraf internasional di Indonesia sehingga pihak RS tidak perlu mengeluarkan biaya tinggi untuk mendapatkan akreditasi itu.
"Dengan adanya lembaga akreditasi tersebut, diharapkan makin banyak RS bertaraf internasional di Indonesia sehingga pasien tidak perlu berobat jauh-jauh ke luar negeri, namun cukup di dalam negeri saja," katanya.
Menurut Menkes, jika ditilik dari jenis penyakitnya, kepergian orang Indonesia berobat ke luar negeri sebenarnya untuk penyakit-penyakit golongan "sepele" yang bisa diobati dokter Indonesia "sambil tutup mata" karena demikian ringannya. Bahkan, warga yang menginginkan pelayanan kesehatan ringan seperti operasi sunat, melahirkan, operasi hernia dan sekadar cek kesehatan reguler, pergi ke Singapura.
Endang Rahayu tak memungkiri dirinya juga dalam beberapa bulan terakhir ini, sering bolak-balik ke Ghuangzou, China, untuk mengobati kanker paru-paru yang diidapnya.
"Bukannya saya tak percaya dengan keahlian dokter dan rumah sakit di Indonesia. Tetapi, pilihan berobat ke China ini juga hasil konsultasi dengan dokter di Indonesia. Ada sebuah rumah sakit khusus kanker di Ghuangzhou yang berhasil mengembangkan teknologi untuk mengobati kanker," katanya.
Upaya pengobatannya ke luar negeri, kata Endang, juga telah mendapat restu dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Keyakinannya untuk berobat ke China juga membuahkan hasil. Hampir satu tahun setelah didiagnosis terkena kanker paru-paru, kini Menkes Endang Rahayu merasa lebih bugar dan sehat.
"Selain pengobatan, saya juga menjaga pola makan dan rajin berolahraga, terutama renang. Lebih dari tiga kali seminggu saya berenang," ujar wanita yang selalu memangkas pendek rambutnya itu.
Ia menganalogikan pilihan berobat ke luar negeri sama dengan ketika orang-orang yang memiliki tingkat kesejahteraan di atas rata-rata membeli barang berdasarkan merek. "Orang-orang kaya punya pilihan, seperti halnya membeli tas. Meski fungsinya untuk menampung barang bawaan, harga tas bervariasi dari harga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Semua tergantung selera dan isi kantong," katanya.
Menkes meyakini bahwa fasilitas dan pelayanan rumah sakit, terutama swasta di Indonesia tidak kalah dengan di Singapura. Apalagi, saat ini di sejumlah kota besar di Indonesia banyak dibangun rumah sakit swasta dengan fasilitas terbaik. Hanya sekarang pilihan terletak di tangan konsumen, apakah suka berobat di dalam negeri atau luar negeri.
"Soal fasilitas, kita tidak kalah, terutama rumah sakit swasta," katanya.
Endang Rahayu menyebutkan sejumlah alasan mengapa pasien-pasien Indonesia kemudian memilih berobat ke rumah sakit (RS) luar negeri, di antaranya pelayanan yang bagus, dokter dengan keahlian yang mumpuni, serta fasilitas penjemputan dari bandara yang dinilai sangat memudahkan.
"Fasilitas semacam penjemputan itu memang belum bisa diterapkan di RS Indonesia mengingat jumlah RS masih kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Namun, bukan hal mustahil di masa depan RS di Indonesia akan melakukan peningkatan pelayanan semacam itu," ujarnya.
Sementara itu, Suwandi Leo, Manajer Pemasaran Senior Divisi Pemasaran dan Pelayanan Parkway Health, mengatakan, sekitar 60 persen pasien yang dirawat di tiga rumah sakit milik Parway Health adalah orang Indonesia. Jumlah tagihan pasien rata-rata mencapai 6.500 dolar Singapura per orang dengan rata-rata masa rawat inap 3,7 hari.
Mereka serius menggaet pasien melalui kolaborasi yang disebut Singapore Medicine. Konsep tersebut bertujuan mengembangkan Singapura sebagai penghubung utama di Asia Pasifik untuk pelayanan kesehatan internasional. Karena sektor pariwisata menjadi andalan dunia usaha Singapura, Singapore Tourism Board (STB) atau Badan Pariwisata Singapura ikut memegang peran utama.
Singapore Medicine diluncurkan Menteri Kesehatan Singapura Khaw Boon Wan di Camden Medical Centre, beberapa waktu lalu. Sang Menteri langsung menyebutkan Indonesia sebagai pasar utama di samping Malaysia. Target pasien ke Singapura tahun 2012 mencapai satu juta orang atau lima kali lipat dari jumlah sekarang. Tahun 2002, sebanyak 200.000 orang asing berobat di Singapura.
"Diperkirakan, 30-40 persen di antaranya dari Indonesia," katanya.


Semua RS di Singapura menawarkan keunggulan layanan medis, mulai dari mekanisme penerimaan pasien, tata ruang dan interior ruang tunggu serta ruang perawatan, ketersediaan dokter spesialis, kecepatan dan kecermatan tindakan medis, hingga kemutakhiran teknologi. Sebagai industri jasa, mereka bersaing meyakinkan, merebut, dan menyenangkan hati pasien. (Tri Wahyuni)

Sumber : suarakaryaonline.com

Sabtu, 09 Juli 2011

Standar Baru Akreditasi Rumah Sakit

Kesadaran untuk hidup sehat, bagi masyarakat Indonesia sudah semakin meningkat. Pada masa sekarang ini, masyarakat jauh lebih kritis terhadap pelayanan kesehatan. Untuk itu, sebagai pusat pelayanan kesehatan, rumah sakit harus selalu meningkatkan kualitas pelayanannya.

Untuk itu, di gedung Kementerian Kesehatan di Kuningan Jakarta, ada sebuah bagian yang disebut Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). KARS adalah perpanjangan tangan dari Kementrian Kesehatan yang bertugas mengawasi dan menetapkan mutu pelayanan dan akreditasi rumah sakit.
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah merdeka sejak 66 tahun yang lalu dan berpenduduk lebih dari 250 juta memiliki tak kurang dari 1650 buah rumah sakit.

Agar dapat mengatur rumah sakit sebanyak itu, maka diterbitkan lah Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 mengenai rumah sakit. Dalam undang-undang tersebut diatur mengenai syarat-syarat mutu akreditasi rumah sakit oleh sebuah lembaga independen (yang disebut Komisi Akreditasi Rumah Sakit, disingkat KARS). Syarat-syarat mutu akreditasi rumah sakit tersebut menjadi ketentuan dalam memperoleh perpanjangan ijin operasional sebuah rumah sakit. Dalam undang-undang tersebut, tanpa kecuali, setiap rumah sakit harus memenuhi syarat dan ketentuan serta melewati proses akreditasi sebelum bisa dinyatakan lulus dan mendapatkan perpanjangan ijin operasionalnya.

Akreditasi rumah sakit di Indonesia berarti pemerintah mengakui bahwa rumah sakit tersebut telah memenuhi semua standar mutu yang telah ditetapkan. Pada tahun 1995 KARS telah membuat ketetapan mengenai adanya tiga jenjang kelengkapan untuk akreditasi rumah sakit yaitu:
  1. Jenjang pertama terdiri dari 5 unit kerja sebagai syarat kelengkapan mutu pelayanan
  2. Jenjang kedua terdiri dari 12 unit kerja sebagai syarat kelengkapan mutu pelayanan
  3. Jenjang ketiga terdiri dari 16 unit kerja sebagai syarat kelengkapan mutu pelayanan
Setiap rumah sakit diperbolehkan memilih satu dari ketiga jenjang tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya sendiri. Setelah pengajuan akreditasi rumah sakit, KARS akan mensurvei rumah sakit tersebut dan kemudian menentukan apakah rumah sakit tersebut lulus akreditasi secara penuh, lulus bersyarat atau tidak lulus. Akreditasi rumah sakit model ini berdasarkan pada performa unit kerja, oleh karena itu diharapkan integrasi semua unit kerjanya masing-masing memenuhi standar. Akreditasi rumah sakit dapat ditingkatkan jika telah memenuhi standar yang ditetapkan KARS.

Saat ini KARS sedang memperbaharui standar akreditasi rumah sakit berdasarkan standar akreditasi rumah sakit dari Joint Committee International yang telah digunakan secara luas di hampir seluruh dunia. Rencananya standar akreditasi rumah sakit terbaru itu akan mulai digunakan pada awal tahun 2012. Standar baru akreditasi rumah sakit ini tidak lagi berdasarkan pada 16 syarat unit kerja yang ada di sebuah rumah sakit, melainkan dibagi menjadi 2 kelompok standar pelayanan yang berkonsentrasi pada pasien serta manajemen rumah sakit dan 2 kelompok sasaran yaitu keselamatan pasien rumah sakit serta millenium development goals. Jika standar akreditasi rumah sakit yang lama lebih menyoroti outcome dan siklus PDCA, maka standar akreditasi rumah sakit yang baru ini lebih menggarisbawahi pada proses.

Jumat, 08 Juli 2011

Revisi Panduan Akreditasi Rumah Sakit Terbaru

Panduan akreditasi rumah sakit terbaru telah ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2008. Seperti sistem akreditasi rumah sakit yang lama, versi baru tersebut berisi pokok-pokok standar pelayanan dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.

Revisi atau perbaikan dalam panduan akreditasi rumah sakit tersebut dilakukan agar dapat menyesuaikan dengan keadaan di masa sekarang, dimana pelayanan rumah sakit yang memenuhi standar sangat dibutuhkan. Selain itu, ada pula tambahan pasal mengenai indikator penilaian tentang hal hal yang berhubungan dengan keselamatan pasien rumah sakit (patient safety)– dimana pada panduan akreditasi rumah sakit versi lama, hal tersebut tidak dijelaskan secara rinci.

Pada panduan akreditasi rumah sakit versi baru, standar dan sistem keselamatan pasien rumah sakit diterapkan antara lain melalui catatan kejadian kejadian yang berpotensi menimbulkan cedera serta melalui standar pemeriksaan peralatan pendukung perawatan.

Sebagai contoh misalnya adalah outlet oksigen yang biasanya terdapat di ruang pasien. Outlet oksigen tersebut harus diperiksa secara berkala untuk menghindari masalah seperti macet saat harus digunakan, dimana hal tersebut dapat sangat membahayakan keadaan pasien. Dalam sistem akreditasi rumah sakit terbaru tersebut, penyusunan indikator penilaian mengenai sistem keselamatan pasien dilakukan dengan standar keselamatan pasien rumah sakit menurut WHO (the World Health Organization) sebagai acuan.

Akreditasi rumah sakit atau pengakuan pemerintah akan sebuah sarana kesehatan yang memenuhi standar yang telah ditentukan tersebut harus dilaksanakan secara rutin. Setiap rumah sakit yang lulus akreditasi (dengan penilaian rata-rata 75 % atau lebih) akan diperiksa ulang standar akreditasinya setiap tiga tahun, sedangkan setiap rumah sakit yang lulus akreditasi bersyarat (dengan skor 60 % sampai 75 %) atau tidak lulus akreditasi (dengan skor di bawah 60 %) uji akreditasi akan dibina serta akan diperiksa ulang satu tahun sesudah pemeriksaan standar akreditasi pertama.

Pelaksanaan akreditasi rumah sakit tersebut, serta tugas tugas yang terkait dengan pelaksanaan itu, dilakukan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit dan Sarana Kesehatan (KARS). KARS sendiri terdiri dari para ahli dalam bidang perumahsakitan. Komisi ini berkantor di gedung Kementrian Kesehatan di daerah Kuningan, Jakarta  Selatan. KARS bertugas untuk mengawasi dan menetapkan mutu pelayanan rumah sakit. KARS melaksanakan tugas tugasnya yang berhubungan dengan akreditasi rumah sakit, yaitu antara lain membantu menyiapkan akreditasi rumah sakit, melakukan survei dan menyampaikan laporan hasil survei serta memberi rekomendasi kepada Menteri Kesehatan.

Setelah itu, Kementrian Kesehatan selanjutnya akan menetapkan hasil akreditasi rumah sakit tersebut berdasarkan usulan KARS. Pada akhir 2007, Kementrian Kesehatan juga telah menetapkan pelaksanaan penyelesaian penyusunan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit. SPM Rumah Sakit tersebut berisi mengenai panduan pelaksanaan standar pada pelayanan rumah sakit termasuk pelayanan pada bagian gawat darurat, rawat inap dan rawat jalan, persalinan, pembedahan sentral, radiologi, internis, rehabilitasi medik, gizi, farmasi, transfusi darah, rekam medis, serta pengelolaan limbah rumah sakit dan pemeliharaan sarana rumah sakit. Akreditasi rumah sakit dan SPM rumah sakit versi baru tersebut ditetapkan untuk dapat meningkatkan kualitas serta kinerja pelayanan rumah sakit.

Minggu, 03 Juli 2011

ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN INSTALASI PATOLOGI KLINIK

Tugas Pokok Instalasi Patologi Klinik Rumah Sakit : Menyelenggarakan pelayanan jasa  laboratorium klinik dengan memeriksa spesimen yang berasal dari tubuh manusia.

Administrasi yang harus dimiliki :

Pencatatan spesimen : Semua bahan yang diterima akan dicatat akan diberi identifikasi dan dicatat di buku register yang terdapat pada setiap subinstalasi.
Buku register : Buku register berada di setiap sub instalasi dan berisi data nama, asal ruangan , tanggal diterima, jenis tes serta hasil yang diperoleh, serta dokter konsulen yang bertugas pada hari tersebut. Data tiap bahan,  pemeriksa dan keadaan sampel tertera dalam buku kerja masing-masing tehnisi.
Rekapitulasi : Rekapitulasi dilakukan setiap akhir hari kerja, diketahui oleh dokter konsulen hari tersebut.


PENYIMPANAN ARSIP CATATAN  KEGIATAN
  1. Arsip adalah catatan lengkap dari penderita dan bahan pemeriksaan hingga hasil laboratorium yang diperiksa di Instalasi Patologi Klinik. Arsip tercatat pada buku register yang ada di setiap Sub Instalasi.
  2. Arsip disimpan selama 1 tahun di setiap Sub Instalasi masing-masing kecuali arsip khusus (lihat buku Sub Instalasi).
  3. Pemantauan dan evaluasi dilakukan tahunan oleh staf masing-masing Sub Instalasi.
  4. Arsip formulir hasil pemeriksaan disimpan di bagian pengambilan hasil.


Rabu, 08 Juni 2011

Pelatihan Akreditasi Rumah Sakit Sepropinsi Kalimantan Barat


Hari : senin-rabu
Tanggal : 6 - 8 Juni 2011


Ibu Ida Suaedah, S.Kp
Narasumber KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit)
Untuk Instrumen Pelayanan Keperawatan


Nah,,,,, yang ini peserta pelatihan akreditasi Rumah Sakit perwakilan dari
RSUD dr. Agoesdjam Ketapang
(Fina Yurfia, S.kp, Ns, Kurniawati, SKM dan dr. Widi Mujono)
lagi berfose dengan GUS PUR ( dr. Handojo, MPH)


sambil menunggu peserta lain yang lagi rehat kopi,,,,,,
foto-foto dulu ah,,,,,, smile,,,


dr. Handojo, M.PH (GUS PUR)
sedang memberikan materi mengenai konsep dasar Akreditasi Rumah sakit, Instrumen Pelayanan Administrasi dan manajemen serta Pelayanan Rekam Medik


Exis,,,,,, di meja makan,,,,,, saat rehat kopi


Suasana keakraban saat makan siang di ruang makan Asrama Haji Pontianak


Foto bareng ama Gus pur (dr. Handoyo, M.PH)
Narasumber KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit)


Berbagi pengalaman dengan rumah sakit yang sudah terakreditasi
megenai langkah-langkah persiapan akreditasi RSUD Dr. Soedarso Pontianak
Oleh ibu Martha Enne, S.PD, MM



Bimbingan akreditasi instrumen pelayanan medik dan gawat darurat
dengan narasumber dr. Djoni Darmadja SpB, Mars di dampingi oleh dr. Yanti



Peserta pelatihan akreditasi Rumah Sakit se Propinsi Kalimantan Barat

Jumat, 20 Mei 2011

ACCESS TO SERVICES AND CONTINUITY SERVICE PART 2

Standard WFA 1.1.Hospitals have standard procedures for admissions and for outpatient registration.
The aims and objectives WFA 1.1.Admission of inpatients to the hospital for care and for outpatient services registration distandarisir through written policies and procedures.
Element rating WFA 1.1.1. Policies and procedures used to standardize the way outpatient registration.2. Policies and procedures used to standardize the way patient enrollment.3. Policies and procedures include the reception of emergency patients to inpatient units.4. Policies and procedures include holding patients for observation.5. Policies and procedures covering the handling of patients in case of no available beds to service the destination.6. Written policies and procedures support the process of admissions and outpatient registration.7. Officials familiar with the policies and procedures and implement them.
GER Standard 1.1.1.Patients who require emergency or immediate palayanan be given priority for examination and treatment.
The aims and objectives GER 1.1.1.Patients with emergency conditions or require immediate service, identified by the process of triage. When you have been identified as an emergency, need immediate care, this patient will be examined and receive services as soon as possible. Patients were examined by a physician or individual who is able before the other patients, received a diagnosis service as soon as possible and given in accordance with the required treatment. Poses triage based on physiological criteria, where possible and appropriate. Train hospital staff to determine patients who require immediate care and how to give priority service. If the hospital can not provide the needs of patients with emergency conditions and to early referral of patients requiring a higher level, the patient must be stabilized before referenced.
Element 1.1.1 GER assessmentHospitals implementing the correct triage process for patients who require priority service.Staff are trained using the criteria.Patients are prioritized on the basis of the urgency of their needs.Emergency patients are reviewed and made stable before referenced.
GER Standard 1.1.2Patient's need for preventive care, palliative, curative and rehabilitative prioritized based on the patient's condition at the time of admission to hospital.

1.1.2 Purpose and objectives GERIf the patient is considered acceptable as hospital inpatients, screening examination to help staff / employee to decide whether patients need preventive care, palliative, curative and rehabilitative and choose the most appropriate service according to the urgency.
Element 1.1.2 GER assessment.1. Screening examination to help staff understand the services needed by patients.2. This type of service or units of services needed, based on screening results.3. Patients' needs with respect to preventive services, curative, rehabilitative and palliative priority.
GER Standard 1.1.3.Attention to the needs of hospital patients in the clinic waiting time or delay to diagnosis and treatment services.
1.1.3 Purpose and objectives GERPatients are informed if there are known to wait a long time for diagnosis and treatment services or in obtaining service plan requires placement on the waiting list. Patients were given information about the reasons for the delay and waited and given alternative information that can be obtained. Terms of service provided to inpatients or outpatients and diagnostic services and need not be given if only a short wait because the doctor came too late. For some services such as oncology or transplantation, the delay may be adjusted with the national norm for such services.
Element 1.1.3 GER assessment.1. Inpatients and outpatients will be informed if there is a delay of service or treatment.2. Patients are informed of the reasons the delay or wait and give information about the available alternatives according to their clinical needs.3. The information documented in medical records.4. Written policies and procedures to support the implementation of a consistent basis.
Standard WFA 1.2.In the inpatient admission, patients and their families receive an explanation of the intent and purpose of the service, expected results and the estimated cost of such services.
The aims and objectives WFA 1.2.At the time of admission process, patients and their families get an adequate explanation to make decisions regarding the recommended services. Explanations include the services proposed, the expected service and the estimated cost of such services. The explanation given to patients and their families or good decision maker for the patient to the security or personal expenses. If the financial situation is limited to the cost of services, hospitals find a solution to overcome this, the explanation may be in written form or orally and recorded in the status of the patient.
Element rating WFA 1.2.1. Patients and their families are given an explanation at the time of admission.2. Explanations include an explanation of the intent and purpose of service.3. Explanations include an explanation of the expected service.4. Explanations include an explanation of the estimated cost to the patient and shortcomings.5. Sufficient explanation to patients and their families to make decisions.
Standard WFA 1.3.Hospitals try to reduce the physical barriers, language and culture and other barriers in providing services.
The aims and objectives WFA 1.3.Hospitals often serve different populations. Maybe old patient, physical disability, speak with various languages ​​and dialects, different cultures or any other barriers that make the process of giving and receiving of services becomes difficult. Hospitals have identified these difficulties and has implemented processes to reduce and eliminate obstacles at the time of acceptance. The hospital also seeks to reduce the impact of these barriers in providing services.
Element rating WFA 1.3.1. Leadership and hospital staff to identify barriers that exist populated patients.2. There are procedures to address or limit the time constraints on patient acceptance.3. There are procedures to address the impact of barriers in providing services.4. This procedure has been implemented.
Standard WFA 1.4.Admission or transfer patients to and from the intensive care unit or special care is determined by criteria established.
The aims and objectives WFA 1.4.Units or services that provide intensive services such as post-operative intensive care units or who provide specialized services such as care for burns patients or organ transplant is generally expensive and usually limited space and staff. Similarly, the department / emergency units equipped with beds for observation and clinical research unit must perform appropriate patient selection. Each service shall create and establish criteria for patients who will receive. Appropriate staff of emergency, intensive care and special services to participate in developing criteria. These criteria are used to provide direct entry into service units, eg the patient directly from the emergency services. Criteria are also used to determine the transfer of patients from service units to another level of service both within and outside the hospital. Criteria are also used to determine if the patient does not require a long service and can be transferred to the level of other services. If the hospital to conduct research or provide services or special programs, the admission or transfer of patients into the program must be through the criteria or protocol. Activities admission and transfer of patients in the program are documented in the medical records included the patient's condition according to the criteria or protocol.
Element rating WFA 1.4.1. The hospital has set criteria for entry or moved out of intensive care or special services, including research and programs to fit the specific needs of patients.2. Criteria based on physiology and appropriate.3. Appropriate staff be included in the development of criteria.4. Staff trained to implement the criteria.5. Status of patients who are admitted into units that provide specialized or intensive services contain appropriate criteria for the services required.6. Status of patients who transferred in or out of units that provide specialized or intensive services include criteria that do not fit anymore in the unit.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes